Pengumuman

Bila tidak ada di blog ini, silakan kunjungi hurahura.wordpress.com
Tampilkan postingan dengan label Artikel. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Artikel. Tampilkan semua postingan

Kamis, 13 Agustus 2009

Delapan Perilaku Raja dan Kitab Agama


OLEH: DJULIANTO SUSANTIO

Menurut sumber-sumber kuno, Kerajaan Mataram (Hindu) dan Majapahit pernah menorehkan tinta emas dalam panggung sejarah Indonesia. Kedua kerajaan tersebut mengalami masa kecemerlangan karena selalu mendasarkan pemerintahannya kepada kitab-kitab agama. Pada masa itu kitab agama berperan sebagai kitab hukum, kitab kebijakan, dan kitab sastra. Karena itu pengertian tentang kitab agama banyak ditanamkan kepada kalangan istana. Sebelum diangkat menjadi raja, sang putra mahkota terlebih dulu harus menguasai kitab-kitab tersebut.

Karena berbagai ajaran dharmmaraja (tentang tugas dan kewajiban seorang raja) sudah dihayati seorang raja maka kepemimpinan seorang raja sangat dihormati rakyatnya. Hal ini tentu membuka jalan bagi pemerintahan yang bersih dan teratur. Ketika itu struktur pemerintahan kuno mempunyai landasan kosmogoni bahwa raja dianggap sebagai penjelmaan dewa di dunia. Sebagai seorang dewaraja maka diharapkan raja mampu mengemong dirinya dan rakyatnya, juga bertindak adil dan bijaksana.

Salah satu ajaran dari kitab-kitab kuno yang masih mempunyai relevansi dengan masa sekarang adalah ajaran astabratha (asta = delapan, bratha = perilaku). Astabratha pertama kali dikenal dalam kitab kuno Ramayana yang berasal dari India. Kitab ini ditulis dalam bahasa Sansekerta. Karena dulu kerajaan-kerajaan kuno di Jawa berciri Hindu atau Buddha (kedua agama ini berasal dari India) maka kemudian kitab Ramayana dengan astabratha-nya dibuat dalam versi Jawa Kuno. Konsep astabratha Jawa menilai seorang pemimpin antara lain harus memiliki sifat ambek adil paramarta atau watak adil merata tanpa pilih kasih.

Dalam konsep Hindu, astabratha dikaitkan dengan sifat para dewa sekaligus gejala alam. Dikatakan, di dalam diri seorang raja harus berpadu si-fat delapan dewa, yakni Indra, Yama, Surya, Soma, Wayu, Kuwera, Waruna, dan Agni.


Mengubah yang Jelek Menjadi Baik

Sebagai Indra (Dewa Hujan), diharapkan raja akan menghujankan anugerah kepada rakyatnya. Lewat hujan, yang diidentikkan dengan air, raja juga diharapkan menumpahkan rezeki sehingga rezeki tersebut selalu mengalir dinamis ibarat air. Air adalah sumber segala kehidupan karena merupakan perangkat penting dalam upacara keagamaan.

Maka raja harus pula mampu memberi penghidupan yang layak kepada rakyatnya. Sekarang justru “air” tidak mengalir dengan dinamis, banyak tersumbat oleh berbagai jenis “sampah”. Dengan demikian, banyak hambatan dalam kehidupan manusia. Korupsi adalah sampah yang paling membudaya sehingga menurunkan citra negara.

Sebagai Yama (Dewa Maut), disyaratkan raja harus menghukum para pencuri dan penjahat. Dulu di Kerajaan Mataram dan Majapahit undang-undang hukum begitu ditegakkan. Terlebih karena para penegak hukum adalah seorang pendeta sehingga pengetahuannya akan kitab sastra dan hukum adat menjadi sempurna. Kini hukum malah sering diperjualbelikan.

Bahkan, para penegak hukum sendiri banyak melakukan pelanggaran hukum. Jaksa memeras, hakim mengintimidasi, pengacara menipu, polisi menyiksa, dan para pembuat hukum menerima suap.

Sebagai Surya (Dewa Matahari), diharapkan raja menarik pajak dari rakyatnya sedikit demi sedikit sehingga tidak memberatkan. Dulu pajak merupakan penghasilan terbesar kerajaan. Petugas pajak yang disebut mangilala drawya haji adalah salah satu tokoh yang berperan penting untuk memajukan kerajaan. Kerajaan bisa maju karena banyak petugas pajak bermental jujur dan bersih. Sebaliknya di zaman modern penggunaan hasil pajak tidak sepenuhnya dinikmati masyarakat pembayarnya. Jalan-jalan raya yang masih berlubang di sana-sini merupakan salah satu contoh konkret.

Sebagai Soma (Dewa Bulan), raja harus membuat bahagia seluruh rakyatnya dengan senyumannya yang bagaikan amerta (air suci). Disyaratkan, tindak tanduk raja tidak “memabukkan” rakyatnya dan mampu mengubah sesuatu yang jelek menjadi baik sebagaimana air amerta itu. Dalam mitologi Hindu sebenarnya soma adalah sejenis minuman yang dapat memabukkan pemakainya (berkonotasi negatif). Namun, berkat Indra maka soma mampu “melapangkan pikiran” (berkonotasi positif) orang.


Masih Relevan

Sebagai Wayu (Dewa Angin), raja harus mampu menyusup ke tempat-tempat tersembunyi. Artinya raja harus senantiasa mengetahui hal-ikhwal rakyatnya dan semua gejolak di berbagai lapisan masyarakat. Banyak raja di Jawa terlebih Raja Hayam Wuruk dari Kerajaan Majapahit, sering melakukan perjalanan keliling ke daerah-daerah sebagaimana diberitakan Kitab Nagarakretagama. Pada zaman Hayam Wuruk inilah Majapahit mengalami masa kejayaannya. Seharusnya pemimpin sekarang pun langsung turun ke bawah, jangan hanya mendengar bisikan dari pembantunya. Dengarkan keluhan masyarakat, antisipasi yang akan terjadi, dan perbaiki yang sudah dianggap baik.

Sebagai Kuwera (Dewa Kekayaan), disyaratkan raja menikmati kekayaan duniawi, bukan kekayaan materi. Dulu berbagai kekayaan di Tanah Jawa, terutama hasil pertanian, berhasil dikelola dan dinikmati dengan baik. Selama berabad-abad Jawa mendapat sebutan gemah ripah loh jinawi. Negaranya tenteram, rakyatnya hidup makmur. Kini banyak kekayaan negara justru disedot investor luar karena kita tidak bisa mengelolanya dengan baik. Ladang emas dikuasai asing. Ladang minyak semakin tak terurus. Kita yang punya tanah dan air, mereka yang mendapat hasil.

Sebagai Waruna (Dewa Laut) yang bersenjatakan jerat, raja harus menjerat semua penjahat. Para penjahat selalu menyebabkan kemunduran negara. Dengan kitab hukum yang dijunjung tinggi ditambah para penegak hukum yang tegas dan mampu mengambil keputusan terbaik dalam pengadilan maka dulu rakyat menjadi taat hukum. Sebagai Agni (Dewa Api), raja harus membasmi semua musuhnya dengan segera. Dalam praktik kepemimpinan, api diidentikkan dengan semangat atau keberanian. Termasuk musuh raja, selain pencuri dan penjahat, adalah ketakutan, kelicikan, keragu-raguan, dan segala hal yang menghambat dinamika kehidupan bernegara.

Di masa kuno raja benar-benar berpegang teguh kepada dharmma. Raja bersikap adil, menghukum yang bersalah, memberikan anugerah kepada yang berjasa, bijaksana, tidak sewenang-wenang, waspada terhadap gejolak di masyarakat, memberikan rasa tenteram kepada rakyatnya, dan berwibawa. Bahkan, raja tidak sungkan-sungkan untuk memimpin sidang pengadilan. Padahal, menurut kitab hukum Manawadharmmasastra, raja tidak boleh menjadi hakim sendiri. Mungkin, demi rakyatlah raja terpaksa turun tangan memutus suatu perkara yang pelik. Jelas, astabratha masih mempunyai relevansi dengan masa kini.

Penulis adalah seorang arkeolog, tinggal di Jakarta

(Sinar Harapan, Selasa, 11 Agustus 2009)

Sabtu, 21 Maret 2009

Para Pemimpin Kita Seperti Sengkuni?


Oleh: Ary Sulistyo

Peneliti Belanda seperti Hazeu dan AC Kruyt menemukan bahwa wayang sudah ada sejak zaman pemerintahan Airlangga. Menurut Hazeu, wayang mula-mula merupakan upacara syamanisme untuk memenuhi kebutuhan manusia mengadakan hubungan dengan roh-roh nenek moyang.

AC Kruyt berpendapat, berbagai suku bangsa di Indonesia punya semacam upacara tertentu untuk mengadakan hubungan antara manusia dengan dewa yang pada masyarakat Jawa dilakukan oleh seorang perantara, yakni dalang (Wibowo, 1976).

Dunia pewayangan dapat ikut serta mendewasakan masyarakat berupa pembekalan konsepsi-konsepsi yang mudah dirasakan dan diresapkan sehingga orang mampu menghadapi persoalan hidup yang beraneka ragam. Filsafat pewayangan membuat para pendukungnya merenungkan hakikat hidup, asal, dan tujuan hidup, hubungan gaib antara dirinya dengan Tuhan, serta kedudukan manusia dalam alam semesta yang gumelar ini (Wibisono, 1991).

Bagi orang Jawa, wayang sudah menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari kehidupan, bahkan wayang diibaratkan sebagai bayangan sifat manusia. Pepatah Jawa berbunyi sangkan paraning dumadi yang artinya setiap insan Jawa harus menenggok dari mana ia berasal.

Ibaratnya kacang tidak boleh lupa dengan kulitnya. Manusia senantiasa eling atau ingat akan kesejatiannya, yang salah satunya direpresentasikan oleh wayang. Oleh sebab itu wayang purwa selalu dapat mengakomodasi, secara aktual berbagai kecenderungan yang berkembang di masyarakat dan dijadikan frame of reference oleh masyarakat dari masa ke masa (Kayam, 1981).

Dari banyaknya jenis wayang, yang terkenal adalah wayang purwa, yaitu jenis pertunjukan wayang kulit dengan lakon-lakon yang mula-mula bersumber pada cerita-cerita kepahlawanan India, yaitu Mahabarata dan Ramayana. Purwa artinya mula-mula, yang asli, yang diambil dari empat kelompok mitos: pertama yang disebut “prasejarah” yang didasarkan sebagian pada Adiparwa (awal dari Mahabarata) dan sebagian pada mitologi Indonesia kuno. Kedua, siklus dari mitos-mitos yang dikenal sebagai Arjunasasrabau yaitu mengenai asal-usul tokoh penting dari Ramayana, dan di dalamnya lewat tokoh Kresna (yang seperti Rama adalah inkarnasi Dewa Wisnu) hubungan antara Ramayana dan Mahabarata. Ketiga, Ramayana sendiri, dan keempat, cerita tentang Pandawa dan Kurawa seperti yang dihubungkan di dalam Mahabarata (Holt, 2000).


Tokoh Sengkuni

Biasanya dalam sebuah pakeliran seorang dalang dituntut untuk dapat menguasai panca gatra pewayangan berupa: (1) seni pedalangan; (2) seni karawitan; (3) seni kriya; (4) seni widya (pendidikan dan falsafah); dan (5) seni ripta (lagu-lagu). Sehingga tokoh-tokoh yang akan dimainkan sesuai dengan karakteristiknya, lagu-lagu yang dipilih sesuai dengan suasana, kapan saat serius dan kapan harus mbanyol. Salah tokohnya adalah Sengkuni dalam Mahabarata, ia mempunyai peran yang penting.

Sengkuni adalah tokoh wayang Mahabarata Jawa yang menjabat sebagai Patih di Negara Astina, sebuah negara yang diperintah oleh Kurawa. Badannya kurus, mukanya pucat kebiru-biruan seperti pecandu. Cara bicaranya “klemak-klemak” terkesan menjengkelkan.

Orang yang mempunyai ciri fisik seperti ini cenderung berbuat licik, senang menipu, munafik, senang memfitnah, senang menghasut, senang mencelakakan orang lain, dan iri hati. Sengkuni dikenal juga sebagai pengemong atau penasihat, terutama tentang hal-hal pemerintahan bagi para Kurawa dalam memerintah Astinapura.

Di sisi gelap jiwa Sengkuni selalu menyimpan suatu dorongan sadis, yaitu “biarlah orang lain menderita.” Di mana pun juga, sebenarnya kita akan menemukan orang-orang yang memiliki kecenderungan-kecenderungan kasar yaitu ingin mempertahankan dirinya, tetapi orang lain harus dikorbankan.

Siasat licik yang dijalankan Sengkuni adalah mengadakan permainan judi dengan dadu dengan Pandawa (Yudistira). Sengkuni tahu bahwa Yudistira senang bermain dadu. Pandawa kalah, pertaruhannya adalah terusir dari istana dan mengembara dalam hutan.

Karena kejahatannya sampai kini tak seorangpun yang mau disamakan dengan tokoh Sengkuni. Tapi, bagaimanapun, masyarakat Jawa dan Bali percaya bahwa tokoh ini tidak dapat diremehkan.

Sengkuni adalah tokoh yang sangat sakti dalam perang Baratayuda karena memiliki Ajian Pancasona. Dengan ajian itu, ia akan kebal terhadap senjata apapun. Tetapi menjelang akhir perang setelah semua Kurawa terbunuh, barulah Sengkuni dapat dibunuh oleh Bima dengan kuku Pancanaka setelah diberi tahu kelemahannya oleh Sri Kresna.


Pemimpin Kita seperti Sengkuni?

Dalam suasana globalisasi ini, seni pewayangan yang hanya mengikuti pakem-pakem kuno tanpa adanya gubahan kreatif dari sang dalang sangat terancam untuk tergusur. Tetapi jika kreativitasnya hanya untuk mencari popularitas, nilai-nilai ataupun pesan moral dari wayang itu juga akan terkikis.

Banyak dalang muda justru mengubah karakter wayang yang dipentaskan agar mendapat perhatian penonton. Tokoh-tokoh yang mempunyai perwatakan serius seperti Bima, Kresna, dan lain sebagainya tahu-tahu diplesetkan menjadi tokoh yang suka bergurau.

Karena mungkin usia wayang yang sudah tua sehingga harus menuruti selera masyarakat yang berubah, pembelokan karakter itu dianggap wajar sebagai bumbu pertunjukan. Lalu kita dibuat tersentak melihat Karna ditampilkan lebih menarik dari saudara tirinya Arjuna, karena Karna lebih mengandung sifat-sifat manusiawi dibanding Arjuna yang “terlalu sempurna” sebagai seorang ksatria.

Begitu juga Yudistira mungkin sekali tidak akan diterima karena terlalu jujur dan terkesan jauh dari segala dosa dan kesalahan. Kresna yang dengan sedikit muslihatnya dianggap lebih benar. Durna, Duryudana, dan Sengkuni bahkan dipandang lebih colorful dalam memimpin negara ketimbang Pandawa.

Ini semua menunjukkan bahwa mungkin sekali peranan wayang sebagai frame of reference dari simbol-simbol akan mulai berakhir dan mulai menginjak pada peranannya yang lebih profan, yang lebih manusiawi, yakni sebagai drama, sebagai lakon modern.

Ini artinya penonton akan melihat perwatakan tokoh-tokoh wayang serta lakon-lakon yang mendukungnya tidak lagi sebagai tokoh-tokoh atau lakon-lakon teladan tetapi sebagai manusia-manusia dengan sejumlah kemungkinan. Ini juga terjadi pergeseran fungsi wayang kepada fungsi dikdakti modern, yakni memberi pengalaman-pengalaman, ekspose-ekspose, pilihan-pilihan dan kemungkinan-kemungkinan (Kayam, 1981).

Maka jangan kaget jika suatu hari muncul pemimpin seperti Sengkuni atau bahkan sudah ada Sengkuni-Sengkuni di sekeliling kita yang menduduki jabatan kepemimpinan, tapi tidak mempunyai jiwa memimpin. Lalu kita menerimanya sebagai biasa-biasa saja, dan tidak ada keterkejutan.

Karena kesakralan sudah bergeser, karena senda-gurau sudah menjadi kewajiban, dan karena hiburan tertawa lebih penting, serta harta dan kedudukan menjadi ukuran segalanya.

Penulis adalah mahasiswa Program Studi Arkeologi
Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya UI.

(Sinar Harapan, Rabu, 6 Juni 2007)

BUKU-BUKU JURNALISTIK


Kontak Saya

NAMA :
EMAIL :
PERIHAL :
PESAN :
TULIS KODE INI :

Komentar Anda

Langganan Majalah Internasional

Jualan Elektronik