Pengumuman

Bila tidak ada di blog ini, silakan kunjungi hurahura.wordpress.com
Tampilkan postingan dengan label Klasik. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Klasik. Tampilkan semua postingan

Senin, 23 November 2009

Arca di Kediri Mungkin Peninggalan Sebelum Majapahit


Kediri - Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Daerah Kabupaten Kediri, Jawa Timur, memperkirakan tiga arca yang ditemukan di Desa Semen, Kecamatan Pagu itu peninggalan kerajaan sebelum Majapahit, abad XIII.

“Masa sebelum Kerajaan Majapahit itu mempunyai ciri tersendiri, yaitu lokasi candi minimal 3 meter dari bawah tanah dan dekat dengan sumber air,” kata Kepala Bidang Sejarah dan Kepurbakalaan, Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Daerah Kabupaten Kediri Ruddy Hari Santoso, Kamis (19/11).

Ruddy mengaku, belum bisa memprediksi temuan tersebut berasal dari kebudayaa ataupun kerajaan apa. Yang jelas, pihaknya memperkirakan temuan itu sebelum kerajaan Majapahit, yang bisa berasal dari kerajaan Kadiri maupun Singosari.

Ia mengungkapkan, pihaknya sudah meninjau ke lokasi temuan arca tersebut dan melakukan pemeriksaan. Hasil pemeriksaan sementara mengidentifikasi dua arca besar yang berukuran sekitar satu meter itu sebagai arca Djala Dwara, yang mirip dengan naga.

Sementara itu, satu arca kecil yang berukuran sekitar 50 sentimeter merupakan arca Garuda Wisnu.

Arca Djala Dwara itu, kata Ruddy, memiliki perbedaan fungsi, yaitu yang digunakan sebagai hiasan di lokasi pemandian atau sendang, maupun bersifat sakral sebagai media pemujaan. “Kalau tentang arca yang baru ditemukan itu kami belum tahu persis. Saat ini, kami masih melakukan pendalaman,” katanya menjelaskan.


Koordinasi

Agar lebih maksimal dalam melakukan penelitian, pihaknya akan melakukan koordinasi dengan tim BP3 (Balai Pelestarian Peninggalan Purbakala) Trowulan, Mojokerto, serta Balai Arkeologi Yogyakarta.

Rencananya, mereka akan datang, Senin (23/11) pekan depan, mengingat saat ini tim sedang berkonsentrasi pada penemuan situs di Pasuruan, yang diperkirakan juga besar.

Tiga arca tersebut ditemukan oleh Juki, warga Desa Semen, Kecamatan Pagu, Kabupaten Kediri. Ketiga arca tersebut ditemukan di lahan milik Imam Afad, warga setempat.

Karena belum ada tindak lanjut tentang penemuan itu, warga berinisiatif melakukan penjagaan, mencegah terjadinya kerusakan temuan itu, hingga tim dari BP3 Trowulan dan Pemkab Kediri melakukan penelitian. (ant)

(Sinar Harapan, Jumat, 20 November 2009)

Jumat, 16 Oktober 2009

Keramik Dinasti Ming Ditemukan di Karimunjawa


OLEH: SU HERDJOKO

Karimunjawa - Tim peneliti Underwater Archaeology dari Balai Arkeologi Yogyakarta melakukan penelitian di dasar laut Kepulauan Karimunjawa, Kabupaten Jepara, Jawa Tengah pada 22 Juli-2 Agustus.

Dari hasil penelitian mereka di perairan Pulau Genting dan Pulau Seruni yang terletak 1,5 jam perjalanan dengan perahu kayu dari Pulau Karimunjawa (sekitar 83 km barat laut Jepara), tim itu menemukan ratusan hingga ribuan pecahan keramik kuno yang diperkirakan dari masa Dinasti Ming, kekaisaran Tiongkok.

Arkeolog TM Hari Lelono menemukan pecahan keramik kuno yang diduga dari masa Dinasti Ming di dasar laut Pulau Genting, Kepulauan Karimunjawa. Tim Balai Arkeologi Yogyakarta melakukan penelitian pada 22 Juli - 2 Agustus 2009

“Itu menunjukkan bahwa perairan Karimunjawa merupakan jalur pelayaran niaga pada masa lalu,” ujar Ketua Tim Peneliti Priyatno Hadi Sulistyarto kepada SH.

Rombongan tim itu meninggalkan Karimunjawa pada Minggu (2/8) menggunakan Kapal Cepat Kartini. Priyatno Hadi menjelaskan, dari hasil penelitian sementara pecahan keramik yang ditemukan tim di hamparan dasar laut dengan radius 50 meter itu bercirikan motif warna putih dan biru. Ada motif gambar bunga dan satwa. “Namun gambar-gambar itu tidak begitu detail. Seperti asal menggambar saja. Itu menunjukkan keramik tersebut dibuat secara masal dalam jumlah sangat banyak. Ini salah satu ciri produk keramik Dinasti Ming. Keramik itu berupa piring, cepuk, dan mangkuk,” jelasnya.

Kepastian bahwa keramik itu adalah produk massal juga bisa dilihat dari pantat keramik yang masih menyisakan tempelan pasir. Itu artinya dalam proses penjemuran awal sebelum dibakar, keramik tersebut dihamparkan di tanah berpasir sehingga pasir-pasir itu menempel pada pantat keramik yang basah. Dinasti Ming memerintah Tiongkok pada abad 13-16 Masehi.

Ketika tim peneliti menemukan artefak (pecahan) keramik di dasar laut, kondisinya sudah tertempel oleh tumbuhan laut. Banyak di antaranya bahkan sudah terbenam di pasir dan lumpur, dan ada juga yang sudah tertutup tumbuhan laut. Seluruh temuan sudah tidak jelas warnanya karena sudah tertempeli semacam kerak-kerak karang laut.


Pertama Kali di Indonesia

Penelitian arkeologis di dasar laut adalah penelitian yang baru pertama kali digelar di Indonesia. Sebenarnya banyak keramik kuno dan kapal karam kuno yang ditemukan dan kemudian diangkat ke permukaan. Namun, temuan-temuan itu dalam bentuk pengangkatan untuk mencari harta karun, sedangkan keramik-keramik kuno itu kemudian diperjual-belikan hingga ke luar negeri.

“Di sini kami tidak mengangkat harta karun. Bahkan kami tidak mencari keramik yang utuh. Sebuah kepingan keramik bagi kami sudah cukup untuk bisa menceritakan apa saja. Keramik itu dari mana, dibuat pada masa apa, siapa yang membawanya, untuk apa, mengapa sampai di Karimunjawa, dan sebagainya. Sejarah peradaban manusia masa lalu bisa kami lihat dari temuan itu,” tutur Priyatno Hadi.


Patung Buddha

Keputusan untuk melakukan penyelaman di titik itu karena tim mendapatkan keterangan dari nelayan setempat yang telah memperoleh temuan gentong-gentong tanah liat, mangkuk, hingga patung Buddha tanpa kepala yang tersangkut jaring nelayan. Gentong-gentong itu oleh nelayan setempat dijadikan penampung air untuk wudu (padasan).

Mulyadi, Karyadi, Karmin, maupun Mamat adalah nelayan setempat yang bisa menceritakan temuan mereka. Di rumah Mulyadi ada gentong tanah liat yang digeletakkan begitu saja di sudut rumah di dekat kandang ternak, sementara di rumah Mamat ada gentong yang dijadikan padasan.

Riris Purbasari dari Balai Pelestarian Peninggalan Purbakala (BP3) Jawa Tengah menjelaskan, dari seluruh benda yang ditemukan penduduk diperkirakan telah terjadi barter antara penduduk lokal dan pendatang dari daratan China pada masa lalu. Pedagang dari China membawa keramik kemudian ditukar dengan produk lokal yang terbuat dari gerabah tanah liat. “Barter barang dalam perdagangan masa lalu sudah biasa terjadi,” kata Riris.

(Sumber: Sinar Harapan, Rabu, 5 Agustus 2009)

BUKU-BUKU JURNALISTIK


Kontak Saya

NAMA :
EMAIL :
PERIHAL :
PESAN :
TULIS KODE INI :

Komentar Anda

Langganan Majalah Internasional

Jualan Elektronik