Pengumuman

Bila tidak ada di blog ini, silakan kunjungi hurahura.wordpress.com
Tampilkan postingan dengan label Prasejarah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Prasejarah. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 21 November 2009

Tim Balai Arkeologi Denpasar Kembali Temukan Sarkofagus


DENPASAR Tim Balai Arkeologi Denpasar kembali menemukan sarkofagus saat melakukan evakuasi atas peti mayat dari batu yang ditemukan sebelumnya di Subak Abang, Desa Keramas, Kecamatan Blahbatuh, Kabupaten Gianyar.

"Sarkofagus ketiga yang ditemukan tahun 2009 itu lokasinya berjejer dengan benda serupa yang ditemukan sebelumnya, dengan umur berkisar 2.500-3.000 tahun," kata Kepala Balai Arkeologi Denpasar, Wayan Suantika, di Denpasar, Rabu (4/1).

Ia mengatakan, sarkofagus yang ditemukan kali ini berbentuk trapezium dengan tonjolan di bagian samping, dan penemuan sebelumnya yang sedang dievakuasi itu berbentuk kura-kura memiliki panjang 60 sentimeter, tinggi 57 sentimeter, digali dari kedalaman 1,5 meter di bawah permukaan tanah.

Tim Balai Arkeologi yang beranggotakan lima orang dan enam orang dari tim Balai Pelestarian Peninggalan Purbakala (BP3) Bali akan segera merampungkan penggalian sarkofagus tersebut.

Suantika menjelaskan, sarkofagus berbentuk trapezium lokasinya berimpitan dengan sarkofagus berbentuk kura-kura yang ditemukan masyarakat secara kebetulan pada 1 Pebruari lalu.

Sebelumnya, 12 Januari lalu, juga ditemukan benda serupa hanya berjarak tujuh meter di sebelah utara. Dengan demikian, di kawasan Desa Keramas memasuki tahun 2009 telah ditemukan tiga sarkofagus atau 13 buah sejak tahun 1978.

Di Bali secara keseluruhan telah ditemukan 131 sarkofagus, 71 buah diantara digali dari berbagai tempat di wilayah Kabupaten Gianyar. Sarkofagus tersebut kini menjadi koleksi Balai Pelestarian Peninggalan Purbakala.

Menurut Made Swastika, seorang peneliti pada Balai Arkeologi Denpasar, dengan ditemukannya puluhan sarkofagus di Desa Keramas itu maka dapat disimpulkan bahwa aerah tersebut sekitar awal Masehi atau 2.500-3.000 tahun yang silam merupakan salah satu tempat permukiman penduduk di Bali.

Hal itu diperkuat dengan adanya Pura Besakih di sekitar Desa Keramas yang dihiasi patung (arca) pada jaman megalitik, namun masyarakat jaman itu belum mengenal alat tulis menulis, namun mempunyai peradaban yang cukup tinggi.

"Mereka sangat menghormati yang mati dengan menguburkan dalam sarkofqagus, karena mempunyai pemikiran (ideologi) kelak di alam sana mendapat tempat yang baik (sorga)," ujar Made Swastika.

Ia menambahkan, orang Bali yang hidup pada zaman megalitik atau sekitar 2.500-3000 tahun yang silam menganggap ada persamaan antara kehidupan yang dijalani di dunia dengan kehidupan setelah mati.

Oleh sebab itu, orang yang mati sangat dihormati, proses penguburan dilakukan secara mewah dengan memberikan bekal kuburan. Penguburan dalam sarkofagus merupakan salah satu bentuk penghormatan kepada orang yang meninggal.

"Penguburan terhadap anggota keluarga yang meninggal pada zaman megalitik itu dilakukan dalam pekarangan rumah masing-masing, tidak seperti halnya sekarang di Bali masing-masing desa adat mempunyai kuburan," ujar Made Suastika.(Ant/OL-01)

(Media Indonesia, Rabu, 4 Februari 2009)

Senin, 23 Maret 2009

Uji Biologi Temukan: Homo Floresiensis Bukan Spesies Baru


Jakarta - Polemik tentang asal-usul Homo Floresiensis tampaknya terus saja berlanjut. Baru-baru ini beberapa ilmuwan gabungan AS dan Inggris, mengajukan asumsi lain yang tak setuju dengan teori bahwa mahluk tersebut benar spesies baru manusia.

Sebelumnya Profesor Dean Falk, peneliti utama dari penemuan fosil Homo Floresiensis, dengan tegas menyatakan kalau tulang manusia yang ditemukannya bukanlah karena penyakit microcephalic. Kecilnya dimensi tulang tengkorak dari mahluk ini, menurutnya alami. Karena tak ditemukannya gejala-gejala ada pengecilan otak, dari tulang tersebut.

Namun baru-baru ini ahli biologi dari Museum Field di Chicago, Robert Martin dan rekan-rekan sejawatnya berhasil menemukan argumen baru mengenai polemik ini. “Ada masalah fundamental dari kecilnya ukuran tengkorak yang dimiliki mahluk ini, bila dicocokan dengan kemampuan menggunakan alat purba pada masa yang sama,” ujar Martin, yang dikutip dari BBC News, akhir pekan lalu.

Menurutnya ketidak cocokan tersebut terungkap saat memperhatikan tipe perangkat yang digunakan Homo Floresiensis. Kebanyakan perangkat tersebut, serupa dengan perangkat yang digunakan oleh manusia modern, Homo Sapiens.

Sedangkan volume otak yang dimiliki mahluk ini, jelas membuat keraguan. Apakah bisa otak dengan volume yang hanya 400 kubik sentimeter – berarti seukuran otak simpanse - seperti yang dimiliki mahluk ini, bisa memiliki kecerdasan menggunakan perangkat serupa dengan manusia modern yang disinyalir hidup bersama mereka?

“Mereka lebih mirip Homo habilis atau Homo Australopithecus, yang juga memiliki tubuh kecil,” tambahnya. “Meskipun kedua mahluk yang disebutkan hidup lebih lama dari tulang yang ditemukan di Flores.”

Chris Stringer, Kepala Sejarah Manusia di Museum Sumber Daya Alami Inggris, malah berkomentar kalau isu ini sebenarnya menarik kalau kita mau memperhatikan lebih cermat hasil temuan tulang yang sudah ada. “Pada saat kami melihat dengan foto yang diperbesar, kami menemukan jenis teraneh dari manusia. Kesimpulan kami secara patologi, tulang temuan dari Flores tersebut bukan seperti manusia modern. Malah lebih persis manusia primitif, yang serupa dengan beberapa jenis lain yang pernah kami temukan beberapa waktu sebelumnya,” ujarnya.

Ia juga menyimpulkan, kalau secara keseluruhan kumpulan tulang tersebut, mulai dari tulang bahu, dagu dan geraham, secara umum mengindikasikan kalau para peneliti kini terjebak dengan teori evolusi dari spesies manusia. “Beberapa material yang ditemukan menunjukkan berumur 70.000 tahun. Beberapa yang lain diperkirakan ada semenjak 12.000 tahun yang lalu. Sekarang kita tak berbicara satu mahluk yang hidup berkelanjutan antara satu dengan yang lainnya. Ada kemungkinan mahluk-mahluk ini hidup berbeda periodenya pula,” ujar Chris lagi.

Dr. Martin juga menantang teori Prof. Falk, yang menyatakan kalau penemuannya tersebut bukanlah karena penyakit microcephalic. Ia menyarankan agar para ilmuwan mencari contoh manusia modern yang terkena microchepalic di Indonesia, yang hidup selamat hingga usia lanjut.

Homo Floresiensis sendiri menjadi terkenal karena temuan Prof. Falk di Leang Bua, Flores tahun 2003 lalu. Setelah dilakukan beberapa analisis terhadap tulangnya, akhirnya dinyatakan temuan tersebut merupakan jenis spesiesbaru manusia, bernama Homo Floresiensis.

Tinggi mahluk tersebut yang hanya satu meter (sekitar tiga kaki) dan ukuran tengkorak yang hanya bisa menampung otak sebanyak 400 kubik sentimeter (setara dengan 24 kubik inci), mengundang banyak sensasi. Pertempuran teori mengenai keberadaan mahluk ini, yang benar spesies baru manusia atau karena penyakit pengecilan kepala, atau dikenal dengan nama microcephalic. (sulung prasetyo)

(Sinar Harapan, 29 Mei 2005)

Fosil Ular Primitif Memancing Debat Baru


JAKARTA - Sebuah fosil yang ditemukan di Argentina diprediksi sebagai ular paling primitif yang pernah ditemukan. Fosil berkaki dua tersebut mengundang debat anyar di kalangan ilmuwan, apakah ular sesungguhnya hewan darat atau hewan air.

Dari susunan anatominya, fosil ini memperlihatkan bahwa semasa hidup mereka menghuni daratan. Ini terbukti dengan adanya dua kaki. Selama ini, ilmuwan meyakini bahwa ular awalnya adalah hewan menyerupai kadal berkaki empat yang mengalami evolusi sehingga kehilangan keempat kakinya. Namun, ada juga kalangan ilmuwan yang beranggapan bahwa nenek moyang kadal pada dasarnya adalah hewan air.

Temuan baru ini berupa fosil hewan mirip ular yang digali di daerah Patagonia. Usianya diperkirakan sekitar 90 juta tahun.

“Ukuran pastinya masih belum diketahui, namun diperkirakan panjangnya tidak lebih dari tiga kaki,” jelas Hussam Zaher dari of the University of Sao Paulo, Brasil, seperti yang dilansir AP baru-baru ini. Zaher bersama tim ilmuwan Argentina melaporkan temuannya pada jurnal ilmiah Nature teranyar.


Dua Kaki

Ini adalah pertama kalinya ilmuwan menemukan fosil ular dengan sebuah sacrum, yakni sejenis tulang yang mendukung bagian pinggulnya. Bagian tubuh ini diduga sepasang kaki mirip yang dijumpai pada kadal, hanya bedanya kadal memiliki empat kaki.

Dari bentuk anatomi fosil ini dapat digali lebih lanjut kapan kira-kira ular mulai mengalami evolusi anatomi sampai kehilangan kakinya, seperti ular modern yang kita kenal saat ini.

Dari anatomi tersebut juga diketahui baha ular primitof ini hidup di daratan. Kedua kaki itu kemungkinan besar berfungsi sebagai alat penggali tanah karena mereka hidup di atas dan di dalam tanah sekaligus.

“Hanya ada sedikit bukti di masa lalu mengenai perdebatan apakah ular itu hewan darat atau hewan laut. Dan temuan ini menjadi bukti baru yang memperkuat teori yang menyatakan ular adalah hewan daratan,” komentar Zaher. Mungkin juga temuan ini akan menjadi pemicu awal dari perdebatan baru di kalangan ilmuwan yang menganut teori berbeda-beda.

Walau ular primitif memiliki dua kaki, hewan tersebut tetap melata seperti ular yang kita kenal saat ini. Mereka bahkan mempergunakan dua kakinya hanya pada saat tertentu saja apabila memang diperlukan.

Fosil ular ini diberi nama Najash rionegrina. Nama ini berasal dari bahasa Ibrani yang berarti ular, digabungkan dengan nama tempat Rio Negro, lokasi di mana fosil itu digali.

Jack Conrad, ilmuwan dari American Museum of Natural History, New York, menganggap temuan ini sebagai hewan yang fantastis sebab memang belum pernah ada hewan seperti itu di benak ilmuwan. Menurutnya, fosil ini dapat menjadi petunjuk mengenai asal usul ular, bagaimana mereka berevolusi, dan banyak lagi. (merry magdalena)

(Sinar Harapan, 26 April 2006)

Sabtu, 21 Maret 2009

Kerdilnya Manusia Flores Purba


JAKARTA – Tekanan lingkungan yang tidak mendukung faktor kehidupan, hingga kini masih dipercaya sebagai faktor utama penyebab mengerdilnya tubuh homo floresiensis, yang ditemukan di Leang Bua – Flores, beberapa waktu silam. Namun keberadaan manusia flores modern yang hingga kini tak menampakkan perubahan tubuh yang makin mengecil, kemudian menjadi pertanyaan lanjutan. Apakah teori Dwarfisme pulau yang dianggap melingkupi proses pengerdilan homo floresiensis, masih dapat dipertanggungjawabkan.

Teori isolasi yang diungkapkan beberapa ahli untuk menjawab sebab-musabab mengecilnya tubuh spesies tersebut, sebenarnya berlandaskan pada paham Darwin (Charles Darwin – The Origin of Species) yang mengemukakan kemungkinan terjadi proses perubahan fisiologi pada tubuh makhluk hidup, untuk tetap bisa mempertahankan kelangsungan hidup mereka di bumi ini. Teori ini sering dijabarkan dengan keberadaan hewan seperti jerapah yang berleher panjang. Menurut Darwin, jerapah purba tidaklah berleher panjang, namun karena makanan yang ia butuhkan berada di antara pohon-pohon yang tinggi, dan jerapah berusaha menggapai pucuk-pucuk pohon tinggi tersebut. Membuat posisi lehernya makin lama makin memanjang.

Teori ini juga yang kemudian diungkapkan kembali oleh para ahli untuk menjawab kenyataan kecilnya tubuh spesies homo floresiensis, yang baru mereka temukan di daerah Ruteng tersebut. Menurut mereka dwarfisme (dari kata dwarf dalam bahasa Inggris) pulau menjelaskan makhluk hidup yang terpisahkan secara geografis dari populasi di daratan induk mengalami pengecilan ukuran tubuh secara bertahap akibat tidak mencukupinya sumber makanan setempat. Proses ini diketahui dengan baik dari fosil-fosil mamalia yang ditemukan di pulau-pulau. Misalnya, diperkirakan bahwa gajah dengan tinggi tubuh satu meter yang ditemukan di Pulau Sisilia dan Malta berubah menjadi kerdil sedikitnya 5.000 tahun setelah terdampar di pulau tersebut dan terpisahkan dari gajah-gajah berketinggian empat meter.

”Namun bila melihat kondisi orang Flores saat ini. Tampaknya teori tersebut kini harus dipertanyakan kembali keabsahannya,” imbuh Rokhus Due Awe, salah seorang arkeolog anggota penggalian situs Leang Bua, Sabtu (2/4) kemarin.

Pernyataan Rokhus tersebut mungkin agak terdengar nyeleneh, karena bertabrakan langsung dengan teori Dwarf yang dipilih banyak ahli arkeologi lain. Namun Rokhus menyatakan bahwa omongannya tersebut bukanlah hanya omong kosong tanpa dasar. Kemudian ia memberi contoh manusia Flores saat ini, yang notabene juga memiliki faktor kekurangan gizi (malnutrisi). ”Pada kenyataannya tidak ada yang mengalami pengerdilan tubuh, hingga sedemikian ekstrem, seperti yang dialami homo floresiensis,” tukasnya.


Asal Kecil

Ketika fosil homo floresiensis ditemukan pertama kali, para ilmuwan menyangka itu adalah fosil anak kecil. Bisa dimaklumi karena sejauh ini tidak ada catatan adanya bangsa yang sekerdil itu. Orang pigmi di Afrika saja lebih tinggi dengan ukuran tubuh rata-rata 1,4 hingga 1,5 meter.

Salah satu penjelasan mengenai hal itu adalah bahwa selama ribuan tahun, orang-orang ini menjadi makin kecil karena kondisi alam menjadikan mereka kecil. Mamalia-mamalia yang menjadi kerdil di pulau-pulau Flores juga mendukung teori itu. Sebabnya antara lain karena di sana hanya ada sedikit persediaan makanan, sedikit hewan pemangsa, dan sedikit spesies yang berebut wilayah. Karena kebutuhan energi per harinya sedikit, maka tidak diperlukan tubuh besar untuk bertahan.

Tentu saja tidak ada bukti yang membenarkan teori di atas. ”Yang jelas tidak ada fosil manusia berbadan besar yang ditemukan di Flores bersama peralatan-peralatan batu berusia 840.000 tahun lalu,” kata Peter Brown, pakar arkeologi dari Universitas New England - Australia, menanggapi hal ini. ”Artinya mereka mungkin tidak mengerdil di sana, karena tidak ada bukti nenek moyangnya bertubuh besar. Mereka mungkin tiba sudah dalam postur kecil.”


Masih Yakin

”Hingga kini kami masih yakin, bahwa pengerdilan yang terjadi pada tubuh homo floresiensis diakibatkan karena depresi lingkungan sekitar mereka. Seperti makanan terbatas, daya hidup terbatas, membuat bentuk tubuh mengecil,” ungkap Thomas Sutikna, menanggapi hal ini, pada sebuah acara teleconference yang diadakan sebelumnya.

Menurutnya indikasi ini sebenarnya sangat menarik secara ilmu pengetahuan. Mengingat proses pengerdilan seperti ini ternyata juga terjadi pada jenis makhluk hidup lain di bumi ini. Ia mencontohkan, seperti kasus pengerdilan yang dialami hewan seperti gajah di Sisilia. ”Karena itu kesimpulan kami masih sama, bahwa jenis spesies ini secara teori menderita depresi dari lingkungan sekitar, hingga tubuhnya mengecil. Seperti yang diungkapkan beberapa ahli sebelumnya,” imbuh Thomas.

Thomas juga mengungkapkan, bahwa hingga saat ini mereka telah menemukan enam individu yang sama selama penggalian mereka di Leang Bua hingga saat ini. Menurutnya fenomena manusia kerdil ini, tidaklah memiliki indikator mengidap penyakit di tubuhnya.

Masih sangat banyak pertanyaan berkaitan dengan manusia Flores tersebut. Tetapi untuk mengetahuinya kita harus bersabar menunggu penelitian, karena seperti pengumuman temuan yang terkesan terlambat, kira-kira 13 bulan lalu dan baru diumumkan secara luas sekarang. Setiap kajian ilmiah memang harus melalui penelitian mendalam untuk memastikan bahwa yang disampaikan adalah sesuatu yang benar-benar relevan. (str-sulung prasetyo)

(Sinar Harapan, 4 April 2005)

Selasa, 17 Maret 2009

Dari Gigi Geledek Menjadi Arkeologi Publik


JAKARTA – Awal abad 18, gigi geledek banyak dikenal orang Condet, berasal dari langit. Gigi geledek sering ditemukan dalam tanah lembek pinggir Sungai Ciliwung, usai hujan geledek mengguyur.

Bentuknya yang persegi, seperti batu yang diasah halus, berwarna kuning muda dan mengkilat seperti layaknya gigi, membuat orang kemudian mengira gigi dewa petir yang tanggal dan jatuh ke bumi. Anggapan itu yang kemudian membuat orang Condet percaya adanya beberapa kesaktian yang dimiliki gigi tersebut. Beberapa bahkan beranggapan khasiat gigi sebagai penyembuh penyakit.

“Bahkan ada yang mencelup beliung ini, sebagai penyembuh penyakit,” urai Ali Akbar, pemenang pertama Pemilihan Peneliti Muda Indonesia (PPMI) kategori Sosial dan Budaya, ketika ditemui sebelum penyerahan penghargaan di awal minggu keempat bulan November ini.

Lucunya kepercayaan ini terus berkembang selama dua abad setelahnya. Baru pada tahun 1922 penelitian dari Van Stein Callenfens, disusul Van der Hoop tahun 1941 dan Van Heekeren tahun 1955, membuktikan kalau benda yang dianggap sebagai gigi geledek merupakan benda buatan masa prasejarah yang dinamakan beliung persegi (Neolithic adze).

Penelitian mengenai beliung ini pun diteruskan, hingga paruh kedua abad ke-20. Terakhir dilanjutkan oleh Ali Akbar sendiri. Dalam perjalanan penelitiannya, pria yang juga dosen jurusan Arkeologi UI ini menemukan berbagai penambahan kelengkapan teori. Kesemuanya kemudian dituangkan dalam makalahnya yang berjudul “Mempopulerkan Pengetahuan Tentang Prasejarah Jakarta dan Sekitarnya Kepada Masyarakat: Suatu Pendekatan Arkeologi Publik”.

Untuk menambah perluasan pengetahuan yang didapat, laki-laki yang akrab dipanggil Abe ini memasukan pendekatan Three Dimensional Approach dan Settlement Archeology.

Melalui dua pendekatan tersebut, ia kemudian mampu menutup kelemahan aplikasi penelitian sebelumnya, yang dianggap terlalu artifact oriented. Kelemahan teori tersebut jelas hanya mengidentifikasi artefak berdasarkan bentuk. Sementara itu, sebuah kajian artefak sebenarnya bisa diluaskan, setelah Spaulding mengenalkan teori Three Dimensional Approach kisaran tahun 1971 lalu.

Dalam kajiannya, Spaulding meyakini suatu artefak memiliki tiga dimensi arkeologi, yakni bentuk, ruang dan waktu. Dengan pendekatan ini, menurut Abe, pengetahuan yang didapat dari satu artefak akan lebih lengkap. Mulai dari fungsi artefak, lokasi pembuatan dan teknik pembuatan dapat diraba pengetahuannya.

Sementara itu, Settlement Archeology diperkenalkan oleh Clarke tahun 1977, yang kemudian dibawa Mundardjito sekitar tahun 1990 lalu. Teori ini meyakini bahwa disatu tempat dimana artefak diperoleh, pasti ada sejumlah aktivitas pendukungnya, seperti aktifitas produksi, distribusi, konsumsi, religi, politik dan aktivitas lainnya.

Dengan tambahan dua pendekatan tersebut, tahun 2002 lalu, ia berhasil menelurkan tesis mengenai kehidupan masyarakat masa prasejarah Jakarta dan sekitarnya. Dengan temuan itu juga, ia menunjukkan bahwa situs permukiman prasejarah awalnya ditempatkan pada derah yang memiliki bahan baku untuk membuat artefak. Baru kemudian berubah setelah adanya tuntutan akses interaksi yang lebih mudah dengan daerah luar.

Satu kekurangan yang kemudian dirasakan oleh ayah beranak satu ini, merupakan kurangnya transfer pengetahuan mengenai hal ini kepada masyarakat luas. Banyak pula yang katanya tak pernah mengira ada temuan prasejarah di Jakarta. “Padahal teramat disayangkan bila penemuan artefak tersebut disalahgunakan, karena yang menemukannya tak tahu benda apa yang ditemukannya,” tambah Abe, yang ternyata juga anggota Mapala UI ini.

Menyadari hal itu, Abe kemudian merasa memerlukan suatu terobosan baru untuk mengubah hal ini, apalagi setelah memahami pendekatan arkeologi publik yang disebarluaskan oleh McGimsey kisaran tahun 1972 lalu. Definisi yang diberikan Gimsey kemudian mengukuhkan hak masyarakat untuk mendapatkan informasi arkeologi.

“Ingin lebih memudahkan masyarakat mengerti arkeologi,” selorohnya, tepat sebelum penyerahan hadiah. Konsep ini yang kemudian akan diusungnya dalam memasyarakatkan arkeologi.

Berbagai cara kemudian gencar dilakukannya, termasuk di dalamnya berusaha mengubah bahasa penelitian menjadi gaya populer agar lebih mudah dimengerti masyarakat.

Beberapa respons dari wawancara radio dan tayangan televisi tampaknya menunjukkan hal tersebut. Ternyata masyarakat masih merasa haus akan informasi mengenai arkeologi.

Segudang rencana kini berada di kepala pria berkacamata ini, mulai dari pembuatan museum alam di kawasan Depok, pembuatan penelitian lanjutan untuk desertasinya, penyelesaian proses film mengenai prasejarah di Jakarta, hingga perjalanan-perjalanan ke luar negeri untuk lebih memahami hal ini. Sebuah pandangan menarik dari generasi baru arkeolog negeri ini.
(sulung prasetyo)

(Sumber: Sinar Harapan, Jumat, 1 Desember 2006)

Situs Patiayam Mungkin dari Sana Nenek Moyang Wong Jawa Berasal


Kudus - Di daerah Jawa Tengah ternyata banyak kehidupan masa lampau yang belum terkuak. Ada situs Sangiran di Kabupaten Sragen yang kaya dengan fosil binatang purba, manusia purba, hingga bebatuan purba. Kemudian di Patiayam, Kudus, ternyata juga tidak kalah kayanya dibandingkan Sangiran.

Mirip Sangiran, di Patiayam juga banyak ditemukan fosil binatang purba seperti gajah purba, rusa purba, badak purba, dan lain-lainnya. Dan yang mengejutkan adalah di Patiayam juga ditemukan fosil manusia purba jenis Homo Erectus alias manusia purba (manusia kera?) yang telah berjalan tegak.

Sebenarnya keberadaan situs Patiayam sudah diketahui sejak masa penjajahan dulu. Kala itu banyak peneliti Belanda yang mendaki pegunungan Patiayam di Desa Terban, Kecamatan Jekulo. Nah, saat turun mereka banyak membawa tulang-tulang besar yang oleh penduduk setempat disebut tulang buta (raksasa). Sebenarnya tulang belulang tersebut adalah fosil. Siapa tahu, tulang manusia purba itu bisa jadi merupakan nenek moyang penduduk setempat.

Penelitian lebih serius baru dilakukan oleh peneliti Indonesia pada tahun 1979. Waktu itu Prof Yahdi Yaim dari Geologi ITB Bandung menemukan gigi pra-geraham bawah dan tujuh pecahan tengkorak manusia jenis Homo Erectus. Hasil temuan itu kemudian disimpan di Museum Arkeologi ITB, Bandung. .

Peneliti dan penduduk setempat juga menemukan sejumlah tulang belulang binatang purba, seperti Stegodon Trigonochepalus (sejenis gajah purba), Elephas SP (juga sejenis gajah), Cervus Zwaani dan Cervus Lydekkeri Martin (sejenis rusa), serta binatang-binatang purba lain seperti badak, macan serta kerbau. Semua fosil itu diduga sudah berusia antara 1 juta atau 700.000 tahun yang lalu.

Lalu pada April 1981, tim arkeologi Yogyakarta menemukan dua gading gajah purba berukuran panjang 2,5 meter dan berdiameter 15 sentimeter, yang saat ini disimpan di Museum Ronggowarsito Semarang. Fosil ini diperkirakan berumur 700.000 tahun hingga 1 juta tahun.

Ada 20 titik yang menjadi pusat penemuan fosil purba itu. Forasmasi di gunung Slumprit dan sekitarnya merupakan kawasan yang paling banyak ditemukan fosil purba tersebut. Fosil-fosil itu berusia antara 500.000 hingga 1 juta tahun.

Pada 13–22 November 2007 lalu, Balai Arkeologi Yogyakarta menemukan sebuah kerangka gajah purba dan tiga kapak batu purba yang merupakan alat batu dari manusia purba saat itu. Penemuan ini merupakan hal yang penting.

Tim pimpinan Kepala Balai Arkeologi Yogyakarta, Siswanto itu, menunjukkan bahwa Patiayam merupakan situs hominid lengkap, karena ditemukan fosil manusia, fauna dan alat batu.

Sayangnya, meski banyak fosil sudah ditemukan, perhatian Pemerintah Kabupaten Kudus terhadap keberadaan situs tersebut masih belum maksimal. Buktinya, fosil-fosil itu hanya disimpan secara sembarangan di rumah penduduk setempat.

Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kudus memberi alasan bahwa pengelolaan situs Patiayam saat ini masih terkendala status kepemilikan tanah. Sebagian besar areal situs itu milik Perhutani KPH Pati. Bila status tanah nanti sudah menjadi milik Pemerintah Kabupaten Kudus, baru akan dikembangkan menjadi kawasan wisata arkeologi dan geologi. (djo)

(Sumber: Sinar Harapan, Sabtu, 29 Desember 2007)

Fosil Kepala Gajah Purba Ditemukan di Sangiran


Sragen - Setelah fosil rahang buaya purba ditemukan di Sangiran, Kabupaten Sragen, minggu lalu, penduduk setempat pada pekan ini kembali menemukan fosil kepala gajah purba atau Stegodon trigonocephalus di Dusun Dayu, Desa Dayu, Kecamatan Gondarangrejo, Kabupaten Karanganyar. Lokasi penemuan fosil kepala gajah purba itu sekitar satu kilometer dari temuan rahang buaya purba.

Daryanto (40) waga Dusun Sangiran Krajan, Desa Krikilan, Kecamatan Kalijambe, Kabupaten Sragen adalah penemu fosil kepala gajah purba itu. Ia menemukan fosil itu di lereng bukit, dan baru melaporkan temuannya pada Kamis (26/4).

Menurut Gunawan, petugas Laboratorium Balai Pelestarian Situs Manusia Purba (BPSMP) Sangiran, fosil tengkorak buaya purba itu terdiri dari pangkal gading, rahang atas (maksila), batok tengkorak (cranium), dan dua tulang rusuk.

“Dari penyelidikan sementara, gajah purba itu diperkirakan hidup pada 800.000 – 700.000 tahun yang lalu. Fosil itu memiliki ukuran panjang 1,02 meter, lebar 46 cm, dan tinggi 69 cm,” tuturnya.

Ia berharap, pada waktu-waktu selanjutnya akan ditemukan fosil-fosil pelengkap lainnya seperti gading yang bisa sepanjang 2 meter. Gajah besar ini hidup pasa zaman pleistosin tengah pada formasi kabuh. Pada saat itu manusia juga sudah hidup.

Gajah besar purba stegodon dikenal sebaga saudara mammoth. Ukuran tubuh stegodon dewasa mencapai tinggi 4 meter, panjang 8 meter, lebih panjang 3 meter dari gajah biasa. Berat bisa mencapai 1 ton. Bisa juga diduga ukuran gajah purba dua kali lipat gajah yang hidup sekarang.

Penemuan fosil gajah terakhir pada tahun 2006. Hingga kini sudah ada 960 fosil gajah purba yang ditemukan. Fosil kepala stegodon yang baru ditemukan itu tercatat sebagai temuan nomor 13.813 yang dikoleksi BPSMP Sangiran.

Arkeolog Museum Situs Purbakala Sangiran, Anjarwati Sri Sayekti menuturkan, fosil stegodon merupakan temuan yang terbanyak. Fosil rahang buaya purba jenis Crodilus nilaticus yang baru saja ditemukan minggu lalu merupakan temuan yang istimewa karena cukup lengkap dan jarang ditemukan di Sangiran. Fosil buaya terakhir ditemukan pada tahun 1998. (su herdjoko)

(Sumber: Sinar Harapan, Sabtu, 28 April 2007)

Minggu, 15 Maret 2009

Melacak Jejak Nenek Moyang di “Jurassic Park” Sangiran


Oleh: SU Herdjoko


SRAGEN -Benarkah teori Darwin bahwa manusia merupakan hasil evolusi dari kera? Konon, ada mata rantai yang hilang dari proses evolusi ini. Di manakah hilangnya? Lalu manusia Indonesia itu berasal dari mana?

Melacak jejak kehidupan nenek moyang kita sebenarnya tidak perlu jauh-jauh. Silakan datang ke Sangiran. Di kawasan seluas 56 kilometer persegi itu banyak ditemukan aneka fosil, mulai dari tulang-belulang manusia purba, binatang purba, tumbuhan, sampai dengan bebatuan.

Nah, di sana para pengunjung situs Sangiran tidak perlu ikut-ikutan mencari-cari puing fosil itu bersama penduduk dan arkeolog. Pengunjung bisa menyaksikan hasil temuan para penduduk setempat dan para peneliti di kotak-kotak kaca (vitrin) yang berada di Museum Sangiran atau bernama lengkap Balai Pelestarian Situs Manusia Purba (BPSMP) Sangiran.

Belasan wisatawan asal Yogyakarta, misalnya, dengan antusias mengamati setiap vitrin yang di dalamnya tersimpan aneka fosil itu. Ada fosil-fosil tengkorak manusia, tengkorak Pithecanthropus VIII sebagai fosil tengkorak terlengkap hingga saat ini, yang pernah ditemukan di Indonesia yang berusia sekitar 700.000 tahun. Ada juga fosil tengkorak Homo sapien yang berusia 40.000 tahun.

Ada fosil moluska, seperti kerang, dan fosil binatang air, seperti ikan, kura-kura, kepiting, buaya, fosil kayu, fosil kuda nil (Hippopotamus sp) berupa rahang bawah, rahang atas, dan tulang kering. Kemudian ada pula fosil alat-alat batu mirip kapak ataupun pisau,fosil bebatuan dari situs Sangiran, fosil tengkorak kerbau, gajah purba (hidup 1,2 juta–500.000 tahun lalu), fosil binatang bertanduk, fosil rusa, fosil harimau, babi, dan badak. Pengunjung bisa mengetahui sejarah fosil itu dari keterangan yang tertulis di dalam vitrin tersebut.

“Saya tidak menyangka bila justu di dekat kita sejarah manusia bisa kita temukan. Waktu di SMP saya memang mendapat pelajaran sejarah manusia purba itu. Namun baru kali ini melihat sendiri seperti apa bentuk tengkorak manusia purba itu. Dan ternyata ditemukan di Sangiran,” kata Yuliana Astuti, salah satu pengunjung.

Dewiyanti, yang datang bersama Yuliana mengaku, ia baru pertama kali ke Sangiran. Sebenarnya ia tidak tertarik ke lokasi wisata ini karena ia menganggap tidak menawarkan pemandangan ataupun keindahan apa-apa. Namun setelah datang, ternyata saya mendapatkan pengetahuan baru. Ya tentang fosil itu. Saya jadi teringat film Jurassic Park. Berarti, dulu di Sangiran ini hidup aneka binatang yang besar-besar, bahkan ada manusia purba segala. Seram juga,” tuturnya.

Pemandu wisata arkeolog Anjarwati Sri Sayekti, lulusan Jurusan Arkeologi Universitas Gadjah Mada, Yogakarta, menjelaskan bahwa temuan fosil alat-alat batu itu menunjukkan bahwa manusia memang kreatif. “Itu berbeda dengan binatang yang hanya bisa memakai alat. Manusia mampu menciptakan alat untuk memudahkan kerja dalam kehidupan mereka,” tuturnya.

Sangiran sebenarnya nama dari dua pedukuhan kecil di perbatasan Kabupaaten Sragen dan Kabupaten Karanganyar, Jawa Tengah. Dua pedukuhan itu dibelah oleh Kali Cemoro yang mengalir menuju Bengawan Solo.

Kelebihan Situs Sangiran dibandingkan situs lainnya adalah sebaran temuan fosil purba itu menyebar di areal seluas 56 kilometer persegi. Kawasan ini dianggap memiliki masa hunian manusia purba yang paling lama dibandingkan dengan situs lain di dunia, yakni selama satu juta tahun. Jumlah temuan fosil manusia purba juga melimpah, yaitu sekitar 50 persen populasi homo erectus (manusia kera berjalan tegak). Wajar saja, bila Situs Sangiran akhirnya menjadi ajang penelitian dan studi evolusi manusia purba oleh para ahli dari berbagai belahan dunia hingga saat ini.


Manusia Kera

Sangiran mulai diperhatikan ilmuwan pada tahun 1893 ketika Eugene Dubois datang ke sana untuk mencari fosil nenek moyang manusia. Sayangnya, ia tidak serius meneliti Sangiran. Ia justru mengeluyur ke Trinil, Ngawi, Jawa Timur. Ia menemukan fosil tengkorak dan tulang paha manusia purba. Fosil itu dinamakan Pithecanthropus erectus yang berarti manusia kera berjalan tegak.

JC van Es meneruskan meneliti di Sangiran tahun 1930. Kegiatannya dilanjutkan GHR von Koenigswald. Tahun 1934 Koenigswald menemukan sekitar 1.000 alat batu buatan manusia yang hidup di Sangiran. Alat-alat itu berguna untuk memotong, melancipi tombak kayu, ataupun menyerut yang disebut sebagai alat serpih. Koenigswald menyebut sebagai Sangiran Flake Industry.

Pada tahun 1936 von Koenigswald menemukan fosil rahang manusia purba berukuran besar yang disebut Meganthropus paleojavanicus. Lalu tahun 1937, ia menemukan fosil yang dicari-cari Dubois, yaitu Pithecanthropus erectus berupa tulang tengkorak. Ia menamakan fosil itu Pithecanthropus erectus II.

Prestasi temuan von Koenigswald itu membuat iri ilmuwan lainnya. Mereka beramai-ramai mendatangi Sangiran untuk melakukan penelitian. Beberapa di antara mereka seperti Helmut de Terra, Movius, P Marks, HR van Heekeren, Gert Jan Bartstra, RW van Bemmelen, Anne Marie Semah, Francois Semah, M Itihara, dan ilmuwan lainnya.

Tidak ketinggalan pula adalah ilmuwan Indonesia, seperti RP Soejono, Teuku Yacob (baru saja meninggal dunia, mantan rektor Universitas Gadjah Mada), S Sartono, Hari Widianto, dan lainnya. Fosil pun makin banyak ditemukan.

Beberapa lembaga penelitian dari dalam dan luar negeri juga terlibat dalam mengungkap tabir Sangiran. Beberapa di antara mereka adalah The American Museum of National History, the Biologisch Archeolosgisch Instituut Groningen, Netherlands; Tokyo University, National d’Historie Naturelle Paris, Padova University, Pusat Penelitian dan Pengembangan Geologi Bandung, Pusat Penelitian Arkeologi Nasional, Balai Arkeologi Yogyakarta, dan lembaga-lembaga penelitian lainnya.


Museum Sangiran

Koenigswald juga yang menjadi pemicu pendirian Museum Sangiran. Semula, ia meminta Lurah Desa Krikilan Toto Marsono untuk ikut membantu mencari fosil. Lurah ini segera mengerahkan warga desa untuk mencari “balung buta” (tulang raksasa)–ya fosil itu. Tulang-belulang besar itu dikumpulkan di pendopo Desa Krikilan untuk bahan penelitian Koenigswald dan para ilmuwan lainnya.

Meskipun Konigswald kemudian tidak aktif lagi meneliti, Toto Marsono dan warganya tetap mengumpulkan fosil. Dari pendopo Desa Krikilan itulah sebenarnya cikal bakal Museum Sangiran dimulai.

Pemerintah Provinsi Jawa Tengah baru membangun meseum pada tahun 1974 di Desa Krikilan. Lalu kawasan cagar budaya di sisi selatan pada tahun 1977 juga dibangun museum. Baru tahun 1983 pemerintah pusat membangun museum lebih besar di Desa Krikilan. Semua fosil kemudian dikumpulkan menjadi satu. Tahun 1998 Dinas Pariwisata Jawa Tengah melengkapi Kompleks Museum Sangiran dengan bangunan audio visual, dan pada tahun 2004 Bupati Sragen mengubah ruang kantor dan pertemuan menjadi ruang pameran tambahan.

Pada tahun 1977, pemerintah menetapkan kawasan Sangiran dan sekitarnya seluas 56 kilometer persegi sebagai Daerah Cagar Budaya. Lalu pada tanggal 25 Juni 1995, situs Sangiran dinominasikan ke UNESCO agar tercatat sebagai salah satu warisan dunia. Baru pada 5 Desember 1996 UNESCO menetapkan Sangiran sebagai Warisan Budaya Dunia dan tercatat dalam World Heritage List nomor 593 dengan nama Sangiran Early Man Site.

Temuan fosil terbaru di Sangiran terjadi pada akhir April lalu berupa fosil kepala gajah purba atau Stegodon trigonocephalus terdiri dari pangkal gading, rahang atas (maksila), batok tengkorak (cranium), dan dua tulang rusuk.

(Sumber: Sinar Harapan, Kamis, 1 November 2007)

BUKU-BUKU JURNALISTIK


Kontak Saya

NAMA :
EMAIL :
PERIHAL :
PESAN :
TULIS KODE INI :

Komentar Anda

Langganan Majalah Internasional

Jualan Elektronik